Kisah Nabi Musa AS










Kisah perjalanan nabi musa as belajar kepada nabi khidir bukanlah kisah yang baru. Namun jika dibahas dengan lebih detail, banyak hal baru yang bisa kita ambil pelajaran dari sana.

Dan saya baru mendengarkan kisah berikut dari Ustadz Nouman Ali Khan, yang dijabarkan dengan lebih panjang dan detail, serta pelajaran-pelajaran di dalamnya.

Pertama kita mulai dari nabi musa yang meng-claim, bahwa beliau adalah orang yang paling berilmu. Namun Allah berkata bukan. Ada hamba-Ku yang lebih berilmu dari nabi musa as. Dan nabi musa meminta petunjuk dari Allah untuk mencari keberadaan "orang" tersebut, untuk menjadi gurunya, dan seperti yang kita tahu, orang tersebut adalah nabi khidir

Dan setelah perjalanan panjang untuk bisa menemukan nabi khidir, akhirnya nabi musa memperkenalkan dirinya, dan berkata ingin belajar kepada nabi khidir. Dan, bagaimana reaksi nabi khidir?

Hal yang beliau katakan adalah, "Kau tidak akan bisa sabar denganku?"

Nabi musa menjawab, "Insya Allah aku akan bersabar"

Dan dimulailah perjalanan mereka, yang diawali dengan tindakan nabi khidir yang tiba-tiba melubangi sebuah kapal. Dan melihat hal tersebut, nabi musa bereaksi, dengan mempertanyakan hal tersebut, apa yang sedang gurunya lakukan dengan melubangi kapal tersebut?

Nabi khidir berkata, "telah kukatakan, kau tidak akan bisa sabar denganku"

Menyadari kesalahannya, nabi musa segera minta maaf, dan berkata bahwa beliau tidak akan mempertanyakan apapun lagi. Kesepakatan dibuat, dan perjalanan berlanjut.

Selanjutnya, ketika ada beberapa anak kecil sedang bermain, nabi khidir tiba-tiba membunuh seorang anak kecil. Kaget dengan apa yang dilihat oleh beliau, nabi musa bereaksi kembali terhadap  tindakan gurunya? Apa yang beliau lakukan dengan membunuh anak kecil yang tidak berdosa?

Dan, "kau tidak bisa memegang kata-katamu!" tegas nabi khidir

Menyadari telah berbuat salah lagi, nabi musa segera meminta maaf dan berkata bahwa syetan telah membuatnya lupa. Dan berkata, "Jika selanjutnya saya masih berbuat salah, maka saya tidak berhak untuk belajar lebih jauh dengan anda."

(Dan dalam kehidupan modern sekarang, basically, seorang murid sedang berkata, "jika saya  masih berbuat kesalahan lagi, maka saya tidak berhak untuk melanjutkan sekolah disini lagi. Atau secara jelas sekolah mengeluarkan saya dari sini tidak masalah, memang kesalahan saya sendiri")

Dan perjalanan berlanjut. Mereka masuk ke sebuah desa. Disambut dengan sangat tidak ramah oleh para penduduk di desa tersebut. Sungguh terrible-lah intinya penduduk tersebut. Dan yang dilakukan nabi khidir adalah memperbaiki salah satu rumah penduduk yang hampir roboh. Padahal penduduknya seperti itu, namun nabi khidir justru berbuat baik, nabi musa bertanya-tanya, namun tidak mau mempertanyakan ataupun membantu gurunya, was-was jika nanti berbuat salah yang bisa mengakhiri perguruan mereka.

Hingga akhirnya nabi khidir selesai dengan pekerjaannya, mereka bersiap untuk pergi.

Sebuah komen yang sangat casual dari nabi musa terlontar, "Anda telah bekerja keras untuk meperbaiki bangunan yang hampr roboh itu, bukankah selayaknya anda mendapatkan upah?"

Casual dan hampir samar-samar kata-kata tersebuat terlontar. Namun, registered.

"Dan ini akhir dari perjalanan kita." tegas nabi khidir. Dan setelah itu nabi khidir menjelaskan sebab-sebab beliau melakukan semua itu, dijelaskan dari awal.

LESSON LEARN dari ini semua :

  1. Sebagai seorang murid, bukan hanya masalah kemauan untuk belajar yang penting (betapa serius nabi musa ingin belajar?) namun kesabaran dalam menuntut ilmu, juga sangat penting.
  2. Sebagai seorang murid, untuk bisa mendapatkan ilmu dari guru kita, rasa percaya juga harus tertanam kuat.
  3. Ini yang paling penting. Nabi musa beranggapan bahwa beliau adalah orang paling berilmu, namun Allah membantahnya, ada yang lebih berilmu. Namun setelah bertemu nabi khidir (orang yang dijadikan gurunya beliau) justru berkata, bahwa beliau tidak tahu apa-apa.

           Disini kita mau menempatkan pengetahuan kita seberapa jauh? Apa yang kita tahu?

           Gurunya nabi musa saja berkata tidak tahu apa-apa.
  1. Di akhir cerita nabi khidir menjelaskan alasan-alasan beliau melakukan hal-hal tersebut kepada nabi musa. Poin ke 3 kita sepakat bahwa pengetahuan kita sangat-sangat-sangat dan super duper terbatas.

Terkadang kita mengeluh dengan hal-hal yang terjadi pada hidup kita, yang penuh dengan hal-hal yang kita anggap buruk, menyiksa, dan semacamnya. Yang bisa jadi itu memang cobaan hidup kita, yang memang Allah berikan kepada kita.

Jika dalam bahasa inggris,

It happens FOR you, not TO you. Kata FOR dan TO kan beda maksudnya.

Pengetahuan kita sungguh terbatas, sungguh. Dan bisa jadi ini memang bagian dari puzzle yang Allah tetapkan untuk kita, yang memang menjadi bagian dari WHOLE PICTURE dalam hidup kita. Namun kita yang pengetahuannya terbatas tidak tahu / belum tahu WHOLE PICTURE yang Allah gambarkan untuk kita.

Tugas kita adalah menjalaninya. Berusaha optimis dengan hal-hal yang Allah hadirkan dalam hidup kita, dengan berprinsip pada sebuah keyakinan, bahwa segala hal yang terjadi pada kita itu boil down pada 2 hal :

  1. Jika itu hal baik, maka ada kebaikan di dalamnya, dan tugas kita bersyukur akan semua itu.
  2. Dan jika itu hal "buruk", maka itu adalah ujian yang Allah berikan kepada kita, supaya kita bisa bersabar terhadapnya, dan jika kita bisa bersabar, maka itu jadi kebaikan bagi kita. Dan basically, semua yang terjadi pada kita adalah kebaikan, jika kita bisa menyikapinya dengan benar ( sesuai dengan SOP yang Allah berikan kepada kita)

Dan akhir kata, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengingat hal-hal tersebut. Senantiasa bisa bersabar dan bersyukur dengan ketetapan Allah.

Semua kredit kepada ustadz Nouman Ali khan. Sumber cerita ada di Youtube, silakan bagi yang mau mendengarkan secara langsung.

Dan salam santun dari saya. Semoga bermanfaat bagi yang kita semua. Aamiin.