Real Rival



Satu individu yang harus jadi saingan terberat kita adalah kita versi kemarin. Kalahkan dia.

Dia versi 24 November, tak seharusnya sama dengan versi 25 November.

Terus berada pada perlombaan dengan diri sendiri, mengingatkan pada cerita seekor siput yang tuli.
Dia tuli, dia gak bisa dengar apa kata apapun di sekitarnya. Dan itu justru yang membuatnya untuk terus bisa maju. Terus bergerak.

Terkadang, bahkan sering sekali kita bertanya pada diri sendiri, kenapa aku demikian dan yang lain demikian.

Dan itu yang seharusnya tak kau tanyakan, karena kau terus melihat yang lain. Dan justru berhenti melihat diri sendiri. Saingan yang harusnya kita kalahkan adalah diri sendiri.

Bukan orang lain. Namun diri sendiri.

DIRI SENDIRI

Melihat orang lain? Situasi setiap orang tidak sama. Kesempatan yang mereka miliki tidak sama. Banyak hal hal lain yang tak bisa kita jadikan ukuran. Intinya, mereka dan kita beda.

Terus melihat orang lain, akan menjauhkan kita dari rasa syukur. Beda cerita jika melihat orang lain yang justru menyemangati kita. Namun orang lain, bukanlah yang harus jadi ukuran kita untuk melihat pada diri sendiri.

Bahkan, dua anak dari keluarga yang sama, bisa sama sekali berbeda dalam hal yang bisa menjadikan mereka bagaimana.

Dan cukuplah, lihat pada diri sendiri, dan lakukan persaingan itu dengan diri sendiri.

Aku hari ini tak seharusnya sama dengan aku yang kemarin. Dan itu cukup.