Sebuah Harapan


Dulu banget, waktu jaman sekolah, ada tugas dari guru untuk membuat sebuah puisi, dan aku bikin satu dengan judul harapan. Dan saat itu rasanya bangga betul bisa bikin sesuatu yang menurutku, kukarang dengan hati. Meskipun sekarang juga sudah lupa, bagaimana bunyi puisi itu, namun jika ada sebuah rekamannya, aku gak akan malu dengan isinya yang mungkin sangat 'receh'

RECEH, bagi sisi diriku yang lain, karena mungkin dia berkata, "apa sih isinya?" entah karena dia membandingkannya dengan apa atau siapa yang dia lihat untuk menilainya

Namun bagiku saat itu, dengan level kemampuanku yang yaaa, segitu (meski sekarang juga segitu, Alhamdulillah, Allah menambahnya) itu adalah sesuatu sekali, sesuatu yang memiliki nilai bagiku, dan apapun itu, sesuatu yang memiliki nilai, sesuatu yang kita anggap berharga, dia tergolong AYAT

Definisi AYAT itu sangat luas, dan salah satunya adalah sesuatu yang memiliki nilai bagi kita, sesuatu yang berharga bagi kita pribadi. Dan sesuatu itu bisa jadi sangat berbeda dalam banyak hal bagi setiap individu

Namun ada persamaannya, yaitu setiap sesuatu yang bernilai tersebut menjadi sebuah ayat jika ia  berakhir membawa kita untuk mengingat Allah. Itu tujuan utamanya

Seperti puisi saya diatas tadi, puisi yang sangat receh belasan tahun silam. Saya tiba-tiba teringat dengan puisi tersebut, karena saya mendengarkan sebuah nasihat tentang sebuah harapan.

"Allah melarang kita untuk kehilangan harapan. Memiliki harapan itu sangat penting, itu yang paling utama," kata Ustad, "baru kemudian Iman." sambung beliau

(it's absolutely not my words)

Dari sebuah harapan akan menggiring kita untuk berpikir positif - optimis. Cukup disini. (coba buka lagi penjelasan rumit tentang bagaimana pikiran kita berperan sangat penting dalam mengendalikan tubuh kita, fisik kita)

Ketika kita merasa tak punya harapan, kemana benih pikiran ini mengarahkan kita. Rasanya kita mau bangun tidur saja susah. Pikiran kita yang mengacaukan kita. KITA? Seluruh anggota tubuh kita, luar dalam, seen and unseen. Body and soul.

Lalu kemanakah harapan itu kita arahkan?

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia"

Ali bin Abi Thalib

Tak ada tempat terbaik untuk menggantungkan harapan kita, tidak ada. Kecuali  SATU dan satu-satunya.

"Berharap yang terbaik. Siapkan kemungkinan terburuk. Dan jangan terkejut dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi diantara keduanya."

Syekh Omar Suleiman

Tetap berharap yang terbaik, seburuk apapun masa lalu kita. Seburuk apapun itu. Dan kita bisa belajar dari Nabi Musa Alaihissalam lagi.

  1. Nabi Musa AS, pernah membunuh orang, ketika muda. Beliau belum menjadi nabi. Perasaan trauma seperti apa yang kira-kira akan dimiliki oleh seorang anak muda yang pernah membunuh orang lain?
  2. Nabi Musa AS, pernah gagal sekolah (>_<) Beliau waktu merasa jadi orang paling berilmu dan oleh Allah disangkal dan disuruh belajar kepada nabi khidir, namun gagal kan?
Itu pelajaran tentang sebuah HARAPAN, jangan merasa kecil hati, deh.. Meskipun kita pernah 'gagal' dalam melakukan sesuatu dalam proses belajar kita. Karena di dalam gagal tadi, JIKA KITA MAU MENCARINYA, ada AYAT di dalamnya.

Kata Ustad, "Di setiap apapun itu ADA AYAT DI DALAMNYA".

Ada ayat di dalamnya, belum tentu setiap orang akan melihat ayat tersebut. Hanya jika kita mencarinya, maka kita akan menemukan bahwa ada ayat di dalamnya. And that’s also part of hope, just depends on us, we want to find it or not.

"When does humanity stop appreciating the ayah? Its when humanity stop paying attention." Said Ustadz

PAYING ATTENTION??

Ini mengingatkan saya pada sebuah film, PEACEFUL WARRIOR. Ada satu adegan ketika Socrates menyuruh Dan untuk pay attention. "Pay Attention!! Your mind is not paying attention again"

Pay attention?? Dan pay attention ini apa bedanya dengan mindfulness??

Saya sangat percaya, bagi mereka yang ahli dalam bidang itu, mampu menjelaskannya dengan presentasi yang mind blowing. Namun sekadar sampai pada kesimpulan ini, saya sudah merasa amazed. Dan itu juga bagian dari definisi ayat, yaitu sesuatu yang akan membuat kita amazed. :)

Teringat sebuah komen begini, "Ojo dadi wong nggumunan, gampang diapusi uwong."

Dan ingin kujawab sekarang, "Jadilah orang yang mudah merasa kagum akan sesuatu. Jika itu yang akan mengantarkanmu pada kekaguman akan kuasa Allah. Kenapa khawatir?"

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk melihat betapa Maha segala-galanya Allah dengan segala petunjukNya yang terbentang luas dimana-mana, hingga sedalam emosi kita sendiri, karena emosi kita juga bagian dari makna sebuah Ayat.

Aamiin Allahumma Aamiin